Agama Islam adalah agama yang lengkap, bukan hanya agama akidah dan syariah, tetapi juga dinul ilmi wa tsaqafah (Agama Ilmu dan Peradaban). Islam lahir di tengah masyarakat Jahiliyah, dengan dipimpin oleh seorang Nabi yang sangat revolusioner, namun mengubah tatanan masyarakat secara radikal dari masyarakat jahiliyah yang serba terbelakang, serba bobrok menjadi masyarakat Islamiyah yang maju dan berperadaban tinggi, yang semula hanya mengenal suku tetapi kemudian menjadi kiblatnya dunia. Pengaruhnya terbentang luas mulai dari Masyrik hingga Magrib. Keberhasilan misi Nabi Muhammad itu diakui Allah sendiri bahkan diabadikan dalam ayat al-Qur’an sebagaimana firman-Nya:

 ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah:3)

Kesempurnaan Islam itu tidak hanya tercermin dalam kelengkapan akidah dan syariah serta tatanan moral yang dibangun, tetapi juga sistem pengetahuan yang berhasil dikembangkan, sepanjang sejarah, sehingga terbangunlah peradaban Islam yang besar. Hal itu bisa dibuktikan bahwa para penemu keilmuan dan teknologi adalah para tokoh ilmuwan Muslim seperti aljabar, optik, penemuan kompas, alat navigasi, penemu piano dan sebagainya. Hasil penemuan itu kemudian ditransfer ke Barat dan dikembangkan menjadi ilmu pengetahuan modern. Kemajuan Islam setara dengan peradaban Yunani bahkan lebih sempurna. Semuanya ini merupakan hasil revolusi yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw, yang membawa perubahan dari zaman jahiliah ke Islamiah. Apa yang disumbangkan berupa spirit mencari pengetahuan dan moral yang menuntun perkembangannya.

Kekhasan peradaban yang dikembangkan Islam dengan peradaban lain adalah Islam tidak pernah memisahkan ilmu pengetahuan dengan agama dan moral. Sebagaimana ditegaskan oleh Allah Swt. Dalam firman-Nya:

وَلِيَعۡلَمَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَيُؤۡمِنُواْ بِهِۦ فَتُخۡبِتَ لَهُۥ قُلُوبُهُمۡۗ

“Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Quran itulah yang hak dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya.” (QS. Al-Hajj:54).

Keterkaitan ilmu, iman dan etika itu yang menjiwai dan menginspirasi perkembangan keilmuan dan peradaban Islam. Ilmu dilandasi dengan keimanan, kemudian dilaksanakan dengan kerendahan hati bahwa ilmu ini dari Allah dan ditasarufkan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan umat manusia. Dengan prinsip semacam itu, maka ilmuwan yang beriman saat mencapai karir keilmuannya bukan semakin congkak, bukan semakin feodal, tetapi semakin merunduk hatinya, baik di hadapan Tuhan maupun di hadapan sesama manusia. Karena itu sangatlah arif apa yang diajarkan oleh para pujangga kita, yaitu ilmu padi, semakin tua dan semakin berisi maka semakin merunduk. Ini sesuai dengan ajaran Islam dan tuntunan al-Qur’an.

Berbeda dengan peradaban Yunani sebelumnya, Islam menekankan tentang pentingnya iman dan moral dalam ilmu pengetahuan, karena itu tidak ada ulama yang ingin menciptakan senjata pembunuh massal, karena ada iman dan moral. Sebaliknya kalangan ilmuwan sekuler sekarang ini baik dari dunia Barat, maupun dari dunia Timur, mereka mengembangkan ilmu terlepas dengan iman, dan tidak disertai etika ilmu pengetahuan. Dengan tidak ada landasan moral dalam pengembangan ilmu pengetahuan,  dengan dalih bahwa ilmu pengetahuan itu objektif netral tidak terikat oleh etika tertentu, maka ilmu dikembangkan menjadi teknologi dan industri yang tidak membawa kemaslahatan, tetapi malah membawa malapetaka bagi umat manusia dengan diciptakan senjata pembunuh massal,  bom atom senjata kimia, senjata biologi dan sebagainya.  Doktrin netralitas etika itu bertentangan dengan doktrin Islam yang menekankan ilmu pengetahuan etis.

Karena itu menurut Islam bahwa seorang di samping perlu berilmu, juga perlu beriman dan dilandasi dengan kerendahan hati, sehingga mereka tidak congkak baik di hadapan Tuhan  maupun di hadapan umat manusia,  sehingga ilmunya benar-benar  diabdikan untuk kepentingan kesejahteraan manusia.  Dalam Islam betapa pentingnya moral dan etika itu, sehingga etika menjadi tujuan utama misi kenabian Muhammad Saw. “aku diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia”. Penegakan makarimal akhlaq (moral yang paling luhur) dan sekaligus moralitas yang paling baik (mashalihal akhlaq).

Saat ini Barat menjadi peradaban yang maju menjadi pusat peradaban dunia, sehingga mempengaruhi seluruh peradaban umat manusia saat ini. Tidak terkecuali perguruan tinggi kita bahkan hampir seluruh paradigma pendidikan kita, kita adopsi dari peradaban Barat. Padahal walau banyak kesamaan antara Islam dengan Barat, tetapi tidak bisa diingkari bahwa banyak perbedaan prinsip, yang ini kadang kita lupakan. Ketika para ilmuwan kita sudah terpukau oleh kemajuan yang mereka capai, mereka kehilangan daya kritis, bahkan kemudian menjadi sangat jumud dan konservatif, mereka mempelajari, menerima dan kemudian mengembangkan ilmu pengetahuan tanpa memperhatikan dengan dasar dan tujuan apa sistem ilmu pengetahuan itu dirumuskan dan dikembangkan.

Ilmu pengetahuan Barat modern dikembangkan dari abad Renaisans yang menolak metafisika yang berbasis agama dalam ilmu pengetahuan, mereka hanya berlandaskan pada filsafat Yunani dan Romawi, hal itu kemudian dikembangkan lebih ekstrem pada masa Afklarung (zaman pencerahan) yang menempatkan manusia -bukan Tuhan- sebagai pusat segala sesuatu. Akal berkuasa mutlak dengan menyingkirkan wahyu. Kalau kita lihat dalam perkembangan akal pemikiran manusia yang dirumuskan ilmuwan Prancis Auguste Comte, pemikiran manusia itu dibangun mulai pertama dari tahap teologis, mitis, kedua tahap metafisik dan ketiga mencapai puncaknya pada pemikiran positif. Dalam pemikiran positif itu semua bisa diindera dan diukur, tidak ada lagi keterkaitan dengan metafisika atau keimanan, dan apa yang mereka sebut sebagai obyektif itu juga terlepas dari ikatan nilai atau moral.

Perdebatan hubungan ilmu dengan agama dan etika ini sebenarnya merupakan persoalan klasik, tetapi perlu kita ketengahkan di tengah perkembangan kapitalisme global dewasa ini, dimana ilmu pengetahuan digunakan sebagai sarana pengembangan kapitalisme, dan sarana pendukung imperialisme, bukan untuk menyejahterakan manusia tetapi sebagai sarana untuk menindas dan menghisap sesama manusia. Saat ini berbagai teori politik dan teori ekonomi yang dikembangkan koperasi internasional benar-benar dijadikan sebagai sarana penundukan, sarana hegemoni, bukan sebagai sarana emansipasi manusia. Untuk membebaskan manusia dari keterbelakangan, ketertindasan dan keterhisapan. Sistem politik kita memecah belah dan menindas rakyat, sistem ekonomi kita yang hanya peduli pada kelompok elit, telah menelantarkan kelompok miskin sehingga terjadi kesenjangan sosial dan kemiskinan yang luar biasa. Ini memang semuanya mendapatkan legitimasi dari sistem keilmuan yang berkembang.

Padahal Islam menegaskan bahwa ilmu pengetahuan haruslah dikembangkan berdasarkan nilai-nilai agama atau keimanan. Itulah ilmu pengetahuan profetik yang bertujuan membebaskan manusia dari keterbelakangan dan ketertindasan untuk mencapai kehidupan yang sejahtera. Semua aktivitas keilmuan ketika merantau bertahun-tahun melakukan penyelidikan, ketika berbulan-bulan suntuk di perpustakaan dan laboratorium, mereka jalankan dengan tulus ikhlas, yang kesemuanya diniati dengan ibadah, maka hasilnya sangat maksimal. Dengan cara pandang seperti itu maka mereka tidak pernah meminta royalti dari apa mereka kembangkan, karena memang ilmu bukan komoditi (barang dagangan), tetapi merupakan bentuk kearifan dan sekaligus kekuasaan yang perlu ditasyarufkan dan diabdikan bagi kepentingan masyarakat dan negara.

Dengan memahami bahwa antara ilmu, iman dan amal shalih tidak terpisah, maka disitu dipahami pula bahwa tidak ada dikotomi antar ilmu umum dan ilmu agama Islam, semuanya terintegrasi dalam keimanan dan moral. Agama Islam memiliki dimensi pengetahuan dan kepercayaan, sebagai sistem kepercayaan, maka pendidikan Islam haruslah bisa memperkuat iman seseorang, ilmu agama yang dipelajari hendaklah dalam upaya meningkatkan keimanan dan ketakwaan. Selanjutnya Islam juga merupakan sistem pengetahuan, karena itu pengajaran Islam mesti diarahkan untuk mengembangkan pengetahuan Islam. Karena itu kajian keislaman jangan sampai mengabaikan persoalan konkrit masalah kehidupan kemasyarakatan yang sedang penuh dengan problem ini, dimana agama dituntut untuk memberikan kepedulian. Demikian juga disiplin ilmu-ilmu sosial, humaniora dan eksakta haruslah tetap merupakan sarana pemantapan keimanan dan sekaligus sebagai metode dan teori untuk menyejahterakan umat manusia.

Walaupun dikatakan Islam itu telah sempurna, tetapi para ulama dan ilmuwan masih punya tanggungjawab untuk lebih menyempurnakan ilmu pengetahuan itu, mengingat persoalan dan kebutuhan yang dihadapi manusia berkembang sehingga perlu terus penyempurnaan. Sebab istilah sempurna itu sendiri bukan statis, tetapi dinamis dan kontekstual, karena itu tugas para ilmuwan untuk melakukan berbagai riset untuk mengembangkan dan menyempurnakan ilmu pengetahuan yang sudah ada agar bisa menjadi sarana untuk membantu meningkatkan kesejahteraan umat manusia, lahir dan batin. Saat ini batin manusia sedang merana dilanda oleh kehampaan, kecemasan, para ilmuwan diminta untuk mengatasi problem sosial, problem psikologis yang dihadapi manusia modern dewasa ini, yang semakin teralienasi di tengah keramaian. Dengan menjalankan amanah ini maka perguruan tinggi tidak akan ditinggalkan masyarakat, sebaliknya akan berperan sebagai pendorong kemajuan masyarakat.[]

Leave A Comment