TEMPO.CO, Surabaya – Direktur Said Aqil Siradj Institute Imdadun Rahmad mengatakan pemilihan gubernur Jawa Timur merupakan pertaruhan Nahdlatul Ulama atau NU untuk menguji kedewasaan berpolitiknya. Sebab, kata dia, dua calon gubernur yang berkompetisi boleh dibilang masih terhitung keluarga sendiri.

“Karena itu jangan sampai terjadi konflik keluarga, kami menyerukan berpolitiklah dengan santun,” kata Imdadun dalam diskusi bertema “Memperjuangkan Rakyat, Merekatkan Umat” di Hotel Midtown Residence Surabaya, Selasa, 23 Januari 2018. Selain Imdadun, diskusi juga dihadiri oleh pembicara Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya Abdul A’ala dan Ketua Persatuan Gereja Indonesia Jawa Timur Pendeta Simon Filantropa.

Menurut Imdadun friksi yang timbul di tubuh NU sebagai imbas persaingan merebut kursi gubernur tidak bisa dihindari. Namun ia berharap friksi-friksi tersebut dapat diselesaikan dengan ahlakul karimah dan menjauhi fitnah. “Pada saatnya nanti Kiai Said Aqil sebagai Ketua Umum PBNU akan menyerukan agar pilkada Jawa Timur ini dilaksanakan dengan damai,” tutur mantan Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia ini.

Imdadun berujar bakal menemui dua kandidat bakal calon gubernur Saifullah Yusuf dan Khofifah Indar Parawansa untuk menyampaikan seruan moral tersebut. Intinya, kata dia, Said Aqil Siradj Institute berharap dua kandidat mampu melaksanakan pilgub Jawa Timur dengan damai dilandasi semangat silaturahmi. “Kalau sampai terjadi konflik, yang buruk ya NU sendiri,” katanya.

Kepada para calon pemilih, Imdadun mengimbau agar masyarakat Jawa Timur berfikir dan bertindak jernih, tidak terpengaruh berita palsu, fitnah, kampanye hitam, viral hoax dan provokasi kebencian berdasarkan isu suku, agama, ras dan antargolongan (SARA). “Jawa Timur merupakan basis ulama, basis pesantren, basis kaum nahdliyin, etalase Islam Nusantara serta pembuktian Islam wasatiyah. Karena itu jangan sampai terkoyak,” kata Imdadun.

Abdul A’ala menambahkan warga Jawa Timur hendaknya berkaca pada pilgub Jakarta yang diwarnai oleh isu-isu SARA dan ujaran kebencian. Sebab, meski pikada telah selesai, luka hati baik pihak yang kalah maupun menang masih sulit disembuhkan sampai sekarang. “Kami mengajak tokoh agama mencari cara agar kondisi Jawa Timur yang aman damai ini tidak seperti Jakarta,” ujarnya.

Sumber

Leave A Comment