Pertemuan akbar pemimpin besar Islam dunia, terselenggara secara khidmat dan akrab di kantor pusat PBNU, Jakarta.

Silahturahmi Imam Besar Al-Azhar Mesir Syekh Ahmad Muhammad Ath-Thayeb dengan Ketua Umum PBNU Kiai Said Aqil Siroj dimaksudkan untuk konsolidasi Islam moderat (Islam Wasatiyah) dan mempererat hubungan antara Al-Azhar dan NU. Pertemuan ini bernilai strategis karena Al-Azhar menjadi kiblat ilmu Islam sedangkan NU merupakan organisasi Islam yang jumlah anggotanya paling besar sedunia.

Dalam dialog hangat yang disertai canda itu, terungkap bahwa Al-Azhar dan NU diakui dunia sebagai pelopor Islam damai dan toleran terhadap perbedaan. Dua lembaga ini diperlukan dunia Islam sebagai katalisator rekonsiliasi dan perajut perdamaian di tengah konflik politik yang tajam sesama umat Islam di Timur Tengah.

Dua institusi ini memiliki agenda yang sama yakni mewujudkan peradaban Islam yang bermartabat dan agung. Untuk memperjuangkannya diperlukan suasana aman dan damai. Tak ada jalan lain kecuali menguatkan kembali ajaran agama yang mengajak persatuan, persaudaraan, mampu memahami perbedaan, wasatiyah, tidak ekstrem, dan tidak suka konflik kekerasan.

Syaikh Ahmad Ath-Thayeb mengingatkan bahaya fitnah, saling menghina dan merendahkan, pecah belah atas nama agama, memicu pertikaian, apalagi saling mengkafirkan.

“Ada banyak kelompok dan madzhab dalam Islam, janganlah saling bertikai mengkafir-kafirkan orang lain. Penyebab kaum Muslim saling membunuh adalah kebodohan memahami Islam” tandasnya.

Menyambung nasehat Ath-Thayeb, Kiai Said Aqil Siroj, menekankan tiga nilai Islam Nusantara, yang dapat memperkuat Islam Wasathiyah.

“Islam Nusantara punya tiga ciri; tawassuth (di tengah-tengah), tawazun (seimbaang), tasamuh toleransi. Islam Nusantara tak hanya mengembangkan ukhuwah Islamiyah (persaudaraan keislaman), ukhuwah wathoniyah (persaudaraan kebangsaan) dan ukhuwah insaniyah (persaudaraan kemanusiaaan)” papar Said Aqil.

Direktur Said Aqil Siroj Institute, M. Imdadun Rahmat yang juga hadir dalam pertemuan akbar itu, menegaskan bahwa aliansi NU dan Al-Azhar akan memberi manfaat besar bagi dunia Islam. Ini akan menjadi kontribusi Indonesia bagi dunia yang lebih damai. Pemerintahan Jokowi harus turun tangan untuk membangun poros Islam Wasathiyah.

“Ini adalah pertemuan yang luar biasa. Kiai Said sudah sejak lama bekerja untuk gerakan Islam Mederat (Wassathy). Ini menjadi warisan perjuangan Islam Nusantara. Al-Azhar adalah patner yang strategis untuk membangun poros moderat dunia Islam, dan mengeliminasi radikalisasi dan terorisme” papar Imdadun.

Selanjutnya Imdadun berharap Presiden Jokowi mengapresiasi dan mendukung kerja-kerja peradaban dan kampanye Islam Nusantara yang dilakukan Kiai Said. Kepemimpinan Kiai Said dalam gerakan Islam nasional yang selaras dengan wawasan kebangsaan, perannya sebagai pemersatu umat dan bangsa diakui secara luas.

“SAS Institute mengajak seluruh Umat Islam dan warga negara Indonesia, untuk menjaga persaudaraan Islam, bangsa dan kemanusiaaan. Kontestasi politik janganlah mengorbankan pilar persatuan kita” tegas Imdadun Rahmat.

Leave A Comment