Buya Said Aqil adalah ulama, cendekiawan dan pemimpin yang kokoh dengan visinya. Memperjuangkan Islam sebagai peradaban unggul, “at-tamaddun”. Islam harus menjadi subjek bukan objek, istilah Beliau “syuhud tsaqafi”, subjek ilmu pengetahuan dan kebudayaan dan “syuhud hadlari”, subjek peradaban.

Untuk itu Islam harus terbuka, kosmopolit terhadap segala perkembangan, perubahan dan konteks akibat beda tempat dan waktu. Islam mesti berdialog dengan tradisi dan modernitas. Positif menyikapi adat istiadat dan kearifan lokal. Positif menyambut wacana baru, rasionalisme, humanisme, demokrasi, nasionalisme, dan liberalisme sekalipun. Islam tidak diposisikan secara tegang terhadap sistem nilai yang lain. Tidak menolak sekonyong-konyong, tapi tidak menelan mentah-mentah. Menyaring, melakukan reservasi. Bukan adoptif tapi adaptif.

Dalam visi Buya Said Aqil, Islam adalah rahmat bagi semesta alam. Manusia, bumi, langit, Timur, Barat, Muslim, non Muslim. Islam harus membawa damai, bukan kekerasan dan perang. Islam menyajikan ahlaq luhur, bukan barbarian apalagi brutalitas. Perang dan penggunaan kekerasan dilakukan pada saatnya: diserang dan terhadap pihak yang berlaku dlalim dan jahat. Perang, kekerasan ada akhlaqnya, tidak berlebihan. Setelah tujuan perang telah tercapai, segera kembali damai. Kekerasan terhadap orang dlalim dan jahat itu tugas dan kewenangan imam, pemerintah. Penegakan hukum oleh aparat berwenang, tidak boleh main hakim sendiri. Intoleransi, persekusi dan kekerasan terhadap yang berbeda identitas dan minoritas tidak boleh terjadi. Apalagi terorisme.

Islam harus kontributif. Berkontribusi meningkatkan taraf hidup manusia. Pendidikan, kesehatan, pendapatan ekonomi, harapan hidup, standar kebahagiaan dan religiusitas-spiritualitas. Khususnya bagi dunia pinggiran, negara miskin, kalangan lower level, kaum marginal. Kaum dluafa dan mustadz’afin. Umat Islam harus bunyi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Demikian Kiai Said.

Islam Ahlussunnah Waljamaah yang diwarisi mayoritas bangsa Indonesia menyediakan landasan kuat bagi terwujudnya masyarakat Mutamaddin. Prinsip tawazun, menuntun kita seimbang dalam segala hal: dunia-akherat, wahyu- rasionalitas, tradisi-modernitas, simbol-substansi, eksploitasi-konservasi, maskulin-feminin, dan seterusnya.

Tawassut menunjukkan jalan moderat, tengah-tengah. Moderasi ini senafas dengan asas keseimbangan. Tidak ekstrim (tatharruf), tidak berlebihan (ghuluw), tidak menyusah-susahkan (tasyaddud) tapi juga tidak melongar-longgarkan (tasahhul).

Prinsip tasamuh (toleran) membimbing kita untuk lapang dada terhadap segala kelemahan manusia, segala yang kurang dan tidak ideal. Tasamuh menolong kita menenggangrasa segala perbedaan iman, agama, aliran, madzhab, pemikiran, kebudayaan dst. Setelah menjalankan tugas dakwah dan syiar, maka hasil diserahkan kepada hidayah Allah, tidak maksa-maksa, apalagi main kekerasan. Wajah Islam arif, luwes, dan tetap menarik hati. Tidak sebaliknya, memproduk Islamo-phobia yang menjadi jalan buntu dakwah Islam.

Menurut Buya Said, menjadi moderat (gabungan tawazun, tawassuth, dan tasamuh) memerlukan kecerdasan. Hanya orang cerdas yang mampu berijtihad, merumuskan konsep yang brilian ini. Imam Al-Asy’ari sangat cerdas mempertemukan antara kecenderungan tekstual/naqly kaum Ahlul Hadits dengan rasionalitas/aqly kaum Mu’tazilah. Ciri kaum fatalis, Jabbariyah dipertemukan dengan kaum freewill, Qodariyah. Kaum Mujassimah didamaikan dengan mereka yang takwil mainded soal sifat Allah.

Imam Madzhab empat (Imam Syafii, Imam Hanafi, Imam Maliki dan Imam Hambali) adalah orang-orang cerdas yang tidak hanya hebat dalam menggali hukum (istimbath), tetapi juga merumuskan metodenya (ushul fiqh). Beliau-beliau peletak dasar metodologis-ilmiah dalam fiqih/syariat agama.

Imam Ghozali juga orang cerdas dalam menemukan kompatibilitas antara Syariat dan Tashawwuf. Kaum Syariat dan kaum Sufi yang saling menyalahkan didamaikan dengan karya ijtihad yang brilian, mumtaz.

Syaikh Hasyim Asy’ari adalah orang cerdas yang menemukan hubungan harmonis antara Islam dan nasionalisme, Syariat dan Pancasila, keumatan dan kebangsaan. Saat ini bangsa muslim yang lain masih berdarah-darah akibat ketegangan antara Islamisme dan nasionalisme, Mbah Hasyim sejak sebelum kemerdekaan telah memberikan rumusan titik temu, “hubbul wathan minal iman” dengan segala derivasinya: pemikiran dan prakteknya.

Buya Said juga kagum pada Kiai Ahmad Siddiq dan Gus Dur. Keduanya adalah orang cerdas yang merevitalisasi nilai-nilai dan prinsip-prinsip Ahlussunnah Waljamaah dalam Khittah NU. Tawazun, tawassuth, tasamuh dan i’tidal digelorakan kembali. Prinsip-prinsip itu dikontekstualisasikan dengan perkembangan dan kondisi secara tepat. Dampaknya, peran NU dalam berbangsa semakin menguat. Juga menjadi harapan dunia bagi pembangunan peradaban. Islam Indonesia, Islam Nusantara, menjadi pilihan ditengah kondisi bangsa Muslim yang didera krisis, kehancuran, kekacauan, konflik, perang saudara akibat radikalisme dan terorisme.

Menurut saya, Kiai Said Aqil telah berhasil menerapkan prinsip i’tidal dalam memimpin NU. Beliau tegak lurus, kokoh, tak bergeming dalam menjalankan prinsip-prinsip Ahlussunnah Waljamaah. Istiqomah mendakwahkan Islam Nusantara, Islam yang damai, Islam penuh Rahmah, yang inklusif-dialogis, Islam yang unggul pembangun paradaban. Sosok yang tidak disukai oleh pihak sisi ekstrim. Bahkan kadang terlalu spontan dan blak-blakan dalam membela Aswaja. Gaya Cirebonan ini sering mengundang kontroversi.

Di tengah terpaan hujatan, fitnah dan kebencian terhadapnya, Kiai Said tetap tabah dan sabar mengajak kalangan mutathorrifin untuk bergerak ke tengah. Tak henti mengkampanyekan sentripetalitas antara turots (kitab kuning) warisan para ulama dengan ide-ide baru, Keislaman dan Keindonesiaan. Selamat Ulang Tahun ke 65. Semoga Allah, memberi panjang usia, kesehatan dan kekuatan untuk memimpin umat dan bangsa. Aamiiin…

Leave A Comment