,

Dalam politik, kekecewaan adalah niscaya. Kendati kecewa tak boleh tumbuh subur dalam hati yang paling luhur. Lebih-lebih dilegitimasi dengan argumen-argumen. Biarlah kecewa, layu sebelum waktunya.

Harapan bersama doa, akan jauh punya harkat derajat. Bersihkan hati dari anasir-anasir masa lalu. Orang Eropa percaya, jika kemeja putih mu ternoda Wine merah, maka bersihkanlah dengan Wine putih.

Bukankah masih kuat dalam ingatan kita, ketika Gus Dur Istiqomah dengan jalan perdamaian. Sejatinya Gus Dur tidak berdamai dengan lawan politiknya. Kendati, Gus Dur mendaimaikan dirinya dengan segenggam kuasa yang dia punya secara absolut.

Tentu KH. Ma’ruf Amin bukanlah Gus Dur. Lebih-lebih diri kita yang senantiasa meneruskan amaliah Gus Dur. Jika Gus Dur bisa mendamaikan dirinya dengan kuasa. Kenapa lantas kita harus terus kecewa?

Menjadi Golput akibat alasan masa lalu jangan dibiarkan tumbuh menguasai akal sehat pribadi-pribadi kita.

Presiden Jokowi hanya meneruskan amanah pendiri bangsa, bahwa Solidaritas-Nasional tetap harus tegak ditengah ketidakpastian dunia Internasional.

Serta, Presiden Jokowi memberikan pesan. Bahwa Nahdlatul ‘Ulama adalah warisan para Wali. Tidak boleh ditinggalkan dalam situasi se-sulit apapun.

Wallahul muwaffiq ila aqwamit-tharieq

Abi Rekso
(Deputi Kajian Said Aqil Siroj Institute)

Leave A Comment