Oleh: Abi Rekso Panggalih

(Deputi Kajian Said Aqil Siroj Instititut)

Dalam membangun sebuah sistem yang baik, pada mulanya kita berbicara tentang sebuah mekanisme antar hubungan kinerja dimana sebuah sistem selalu menemukan kekurangan, kelemahan, serta beberapa kegagalan dalam uji prosesnya. Hingga pada akhirnya, kita berbicara soal moral dalam wilayah operasional. Dunia Barat mengenal dengan istilah etika, yang kerap menjadi pedoman dalam menjalankan sebuah sistem. Khazanah Islam menyebutnya Akhlakul Karim.

Beberapa hari lalu dalam sebuah webinar yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Pengusaha dan Profesional Nahdliyin (P2N), secara terbuka Kiai Said sebagai seorang Ulama juga Ketua Tanfidziyah PBNU memberikan dukungan penuh kepada Menteri BUMN Erick Thohir dalam upaya penanggulangan pandemi Covid-19. Kiai Said memdukung penuh visi BUMN dalam menanamkan akhlak dalam aktivitas keseharian kerja BUMN, baik secara individu maupun keorganisasian Nahdlatul Ulama.

Khazanah dalam Islam secara penting menitikberatkan akhlak dalam keseharian kita. Akhlak yang hendak kita bahas adalah sebuah nilai kebajikan yang bukan saja dimiliki oleh umat muslim, tetapi juga akhlak yang kita utamakan adalah sebuah kebajikan yang patut menjadi nilai universal umat manusia. Dengan begitu melimpahnya konsep dan praktik-praktik akhlak di Indonesia, maka imajinasi kita tidak perlu jauh-jauh terbang melampaui batas-batas kenusantaraan kita jikalau hanya untuk merumuskan konsep akhlak yang membumi bagi manusia di Indonesia.

Perlu sekiranya, kita terus menggali serta mengamali ajaran-ajaran akhlakul karim yang telah diwariskan oleh Mbah Hasyim Asy’ari dalam Kitab Adab al-’âlim wa al-Muta’allim. Inilah sebuah pedoman penting yang diajarkan sejak dini dikalangan pesantren kaum Nahdliyin. Begitu mudahnya orang kebanyakan dari kalangan di luar pesantren, sering merasa kerasan (nyaman) ketika bersilaturahim ke pondok-pondok pesantren Nahdliyin. Sebagaimana kutipan Kiai Said dalam webinar, ratusan ribu pesantren Nahdliyin dipastikan bebas narkoba, dipastikan tidak belajar merakit bom, dipastikan tidak berkelahi satu sama lain. Bahwa pesantren-pesantren kaum Nahdliyin adalah oase kehidupan masyarakat di mana pun pesantren itu berada. Pesantren bukan saja menjadi pusat transformasi ilmu dan pengetahuan. Namun juga pesantren menjadi pusat-pusat pembentukan karakter bangsa yang Pancasilais beserta kepribadian akhlakul karim dalam keseharian.

Mbah Hasyim mengutamakan pembangunan adab serta akhlak yang bersandar pada ilmu dan pengetahuan. Bahwa hubungan intim antara murid dan guru adalah sebuah proses belajar yang terus meluaskan khazanah ilmu dan pengetahuan. Yang terjadi bukan saja dalam praktik-praktik keagamaan, kendati dalam menjawab dalam misteri kehidupan di mana belum tentu jawabannya ada pada manusia. Sebab, betapa pun besarnya keimanan manusia tanpa sedikitpun mencintai ilmu pengetahuan sebagai sebuah amaliah. Maka kesalehan dalam iman itu, belum tentu sebaik-baiknya makhluk Tuhan. Sebagaimana Allah berfirman:

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ خَيۡرُ ٱلۡبَرِيَّةِ

(Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Q.S. Al Bayyinah:7)

Dalam tinjauan kaidah keilmuan, sebuah sistem yang sedang berjalan adalah fakta objektif bisa diperlakukan sebagai ilmu pengetahuan. Atas dasar itu konsep “BUMN Berakhlak” yang diutamakan oleh Menteri Erick Thohir sangatlah sepadan dengan kaidah penjabaran konsep akhlak dalam Kitab Adab al-’âlim wa al-Muta’allim, karangan Mbah Hasyim. Tentu tidak pernah ada sebuah sistem sempurna yang dibuat oleh manusia. Maka sistem dimaknai sebagai sebuah proses pendidikan.

Dalam pergerakan waktu, semakin sistem itu berjalan maka perlu semakin cepat juga diperbaharui. Sejauh insan manusia yang dibekali oleh akhlak dan keilmuan yang fasih, maka sistem yang dibangun berkonsekuensi lebih kokoh bertahan. Barangkali, hubungan-hubungan kerja yang selama ini sekedar relasi atasan dan bawahan perlu bertransformasi menjadi hubungan murid dan guru, sebagaimana yang telah diwasiatkan Mbah Hasyim dalam bab Keutamaan Ilmu.

Ketika semua masalah dalam sistem BUMN dimaknai sebagai proses ilmu pengetahuan, maka di situlah pencapaian keilmuan dapat dinikmati, sebagaimana kaum Nahdliyin mengenalnya sebagai Ulul-Albab (orang yang berakal). Sebagaimana dalam sabda Rasulullah SAW:
من غدا لطلب العلم صلت عليه الملائكة وبورك له في معيشته
“Barang siapa berangkat pergi di pagi hari dengan tujuan mencari ilmu, maka para malaikat akan mendo’akannya dan diberkahi kehidupannya.”

Pesan penting Kiai Said kepada Menteri Erick Thohir juga terkait dengan pemerataan kue ekonomi nasional. Kita berharap konsep ‘berakhlak’ di dalam BUMN bisa berjalan paripurna. Karena hal itu sejalan dengan pengamalan sifat Qana’ah. Adalah sebuah sifat yang selalu serba berkecukupan. Rasulullah SAW selalu menganjurkan bahwa Qana’ah akan menjauhkan manusia dengan kerakusan duniawi. Korupsi yang terjadi di dalam BUMN juga dikarenakan lemahnya pengamalan Qana’ah para pemimpinnya. Pada hakekatnya semua kekayaan yang terkandung di Indonesia mampu mencukupi serta mensejahterkan segenap rakyat Indonesia, tetapi tidak akan pernah bisa untuk memuaskan nafsu satu orang yang rakus.

Kita berharap dalam ikhtiar kaum Nahdliyin yang selalu tegak lurus pada ulama pejuang bangsa. Bahwa kerja-kerja mandiri yang digerakan oleh seluruh elemen kaum Nahdliyin di Indonesia maupun di Internasional, adalah satu upaya yang zuhud kepada Sang Pencipta dan tentu kepada para ulama dan pendiri bangsa Indonesia. Dalam batas-batas itulah sudah saatnya Kementerian BUMN bersama-sama bersama kembali kaum Nahdliyin beriringan dalam langkah, serta menyatukan pandangan untuk Indonesia maju.

Wallahul Muwaffiq ila Aqwamit Tharieq. Wassalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Leave A Comment