Oleh: Abi Rekso Panggalih (Deputi Kajian Said Aqil Siroj Institute)

“Yang hendak diutarakan dalam tulisan ini adalah penjelasan sebuah tema besar yakni; akhlak. Saya tidak ingin membatasi epistemologi akhlak dalam segregasi teologis. Menghadirkan kembali pemikiran Imam Ghazali dalam khazanah keilmuan. Saya hanya menduga, barang kali hal-hal yang saya tulisakan ini yang dimaksudkan oleh Menteri Erick Thohir ‘akhlak’ dalam BUMN.” -ARP

Para pembaca yang budiman, izinkan saya sedikit berbagi konsep pengetahuan akhlaq. Sebagaimana nawaitu dalam tulisan ini, bukan bertujuan pada pretensi polemik BUMN yang ada akhir-akhir ini. Meski begitu, bagi saya sebagai orang yang punya sedikit pengetahuan tentang akhlak, tidak bisa diam tanpa pendapat melihat hal-hal yang dirasa kurang tepat.

Kita akan memulainya dengan ushul akhlak dalam tataran terminologis. Banyak pemikir berpendapat bahwa akhlak diterjemahkan menjadi etika dalam pergulatan filsafat di Barat. Jika meminjam konsep Max Weber dalam ‘Etika Protestan’, dimaknai bahwa etika bertransformasi menjadi sebuah etos kerja. Di mana ujung dari etika harus bermuara pada hal-hal yang bersifat praksis (tindakan kerja). Weber memang memposisikan konsep etika sebagai salah satu pondasi penguatan masyarakat kapitalisme Eropa saat itu. Devosi keagamaan (aktivitas spiritual) diafirmasi dalam rangka memperkuat sistem kapitalisme. Etika dalam maksud weber tercermin dalam bentuk kerja keras komunal, patriotisme kebangsaan, dan kerelaan berkorban untuk kepentingan kelompok yang lebih besar.

Konsep etika yang lain dari Barat, juga dijelaskan secara konseptual oleh Immanuel Kant. Di tangan Kant konsep etika ditarik kembali pada prinsip-prinsip dasar moralitas. Berbeda dengan Weber yang berujung pada tindakan praksis, etika Kantian lebih berorientasi pada tanggung jawab kebajikan masyarakat. Kant menekankan bahwa etika bukan sebagaimana yang etis (Ethische) dalam pergaulan komunitas elit (borjuis). Bagi Kant etika perlu bertransformasi menjadi moral, oleh karenya apa yang sudah diyakini sebagai kebaikan bersama secara otomatis menjadi tanggung jawab bersama pula. Tanggung jawab atas kebajikan tidak bisa dinilai secara tindakan, namun itu menjadi keyakinan luhur (telos) bagi masa depan masyarakat.

Saya kembali mencuplik dari potongan dua pemikiran besar terkait etika, dimaksudkan agar konsep akhlak yang saya utarakan ini bukan dalam rangka segregatif teologis. Tentu, kedua pandangan itu juga diyakini oleh banyak umat manusia sebagai salah satu pedoman kehidupan. Di saat yang sama pandangan-pandang itu juga berfungsi sebagai pilar-pilar pengetahuan masyarakat. Bahkan saya sendiri menerima secara absah kedua pandagan itu dalam khazanah keilmuan.

Dalam masyarakat Indonesia secara umum, dan masyarakat Islam secara khusus istilah akhlak cukup umum digunakan. Bagi saya ketika Menteri Erick Thohir menggunakan istilah akhlak, adalah satu upaya komunikatif mendekatkan BUMN kepada masyarakat.

Saya menduga-duga barangkali konsep akhlak yang dimaksudkan oleh Menteri Erick adalah apa yang telah diuraikan oleh Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin. Imam Ghazali berpedoman pada surat-surat Al-Quran, prilaku Rasulullah Muhammad SAW dan catatan amal kebajikan para pendahulunya dalam merujuk konsep akhlak.

Imam Ghazali menuturkan dalam Ihya Ulumuddin bagaimana keutamaan akhlak Rasulullah SAW tercermin dalam sikap kesehariannya. Bagaimana Nabi SAW menggunakan pakaian apapun yang didapatkan; baik gamis gaun Yaman, mantel ataupun wol yang dipakai orang kebanyakan. Begitu pun beliau, membiarkan siapapun mengikuti setiap langkahnya sekalipun itu seorang budak. Hal lain juga diutarakan Imam Ghazali bagaimana dalam berpergian dan tempat tinggal, Rasulullah SAW tidak memilih. Beliau gunakan alat transportasi apapun yang didapat bahkan kerap berjalan kaki dalam berdakwah.

Akhlak yang dituliskan oleh Imam Ghazali adalah sebuah amal kebajikan beserta kasih sayang sesama manusia. Bagaimana insan manusia mengutamakan adab (kepribadian yang mulia) dalam setiap interaksi sesama manusia ataupun antar kelompok manusia. Dalam Ihya’ Ulumuddin konsep akhlak tidak terlepas dari kemandirian akal pikiran rasional (aqla). Bagaimana kemandirian dari akal pikiran menuntun dari setiap manusia menuju kebijaksanaan dalam tindakan maupun ucapan. Akhlak juga akan kekeringan pada waktunya tanpa jiwa yang tafakur (ruang refleksi) pada Allah Ta’ala. Jika meminjam konsep etika Weber bagaimana ruang doa (devosi keagamaan) diafirmasi dalam tindakan kolektif. Boleh jadi Imam Ghazali meletakan jiwa yang berakhlak pada cakrawala reflektif manusia. Artinya, setiap insan manusia harus dieskalasi menuju tindakan yang bajik dan bijaksana dalam lingkungannya. Satu-satunya media yang paling efektif adalah ruang-ruang keimanan itu tadi. Maka keimanan itu kembali diisi dengan cara-cara yang ramah, bukan asal marah.

Ujub Seorang Basuki Tjahaja Purnama

Tanpa bermaksud memperingati Basuki Tjahaja Purnama atau dulu yang kerap kita sapa Ahok, tulisan ini sebatas mengambil contoh atas prilaku saudara BTP. Namun demikian cara memimpin sekaligus berkomunikasi saudara BTP di dalam institusi yang diamanahi (PT. Pertamina), adalah salah satu contoh akhlak yang kurang terpuji. Sifat ujub (prilaku tercela) BTP, mengingatkan kita betapa pentingnya penguatan akhlak di BUMN. Namun para pembaca yang budiman, betapapun diri saya mengagumi sosok BTP kendati dia tetaplah seorang manusia biasa seperti saya, yang tidak lepas dari perbuatan tercela.

Di tengah kontroversi yang begitu intim dalam sisi-sisi kehidupan BTP, kali ini prilakunya masih jauh dari bijaksana. Lebih-lebih boleh kita simpulkan, jauh dari sikap akhlak sebagaimana anjuran Imam Ghazali. Setidaknya saya menyoroti tiga poin dari apa yang diucapkan saudara BTP. Pertama, dirinya menilai bahwa jika dia didaulah sebagai Dirut Pertamina maka kelompok “Kadrun” akan terus mengusik negri. Kedua, dirinya memaparkan bahwa gaji dan promosi jabatan yang timpang (tidak masuk akal) di dalam Pertamina. Ketiga, dirinya berpendapat bahwa jabatan di BUMN adalah titipan Kementerian.

Tentu saya tidak punya kewenangan dalam merespon apalagi menjawab tudingan yang dilontarkan saudara BTP. Namun yang ingin saya utarakan adalah, ketidaksesuaian prilaku saudara BTP dalam konsep akhlak yang hendak dibangun Menteri Erick Thohir dalam BUMN. Dalam konsep akhlak Imam Ghazali, Seorang pemimpin yang baik dalam melakukan perubahan butuh ketekunan dalam berbuat bajik beserta kesabaran yang begitu luas. Bahwa dalam sebuah sistem yang kita geluti begitu erat dengan prilaku yang bathil, kendati merubah itu juga bukan dengan cara-cara yang ujub. Seorang pemimpin yang kerap kali mengumbar kesalahan di depan umum, dalam rangka mempermalukan anak buah secara luas, sama sekali bukan sikap terpuji. Lebih-lebih, seorang pemimpin yang kerap membangun pertentangan serta mengungkit-ungkit luka di masa lalu adalah satu prilaku yang begitu dibenci Allah SWT.

Ketercelaan itu telah dicerminkan oleh saudara BTP dalam dalam video berdurasi sepuluh menit. Sebaik-baiknya seorang pemimpin adalah mereka yang mengutarakan masalah-masalah yang ada dengan cara-cara yang baik dan pada orang yang tepat pula. Bahkan Imam Ghazali menyatakan bahwa, tidak semua pertanyaan adalah hal baik, meski bertanya bukanlah hal tercela. Sejauh pertanyaan itu memenuhi kaidah-kaidah akhlakul karim maka terpuji pula lah pertanyan itu. Sedangkan bertanya saja memiliki kaidah, apalagi mengubar sebuah kesalahan hanya demi mempermalukan bawahan. Seorang pemimpin yang berakhlak adalah mereka yang menjauh dari segala pemicu permusuhan. Dengan menggunakan istilah “Kadrun” seorang pejabat negara seperti saudara BTP telah jauh dari sifat akhlakul karim. Dalam husnudzon saya kepada saudara BTP, barangkali cara-cara kurang terpuji seperti ini dia lakukan dalam rangka mempertahankan hal yang sudah ada ataupun merebut yang ingin dicapai.

Pada masa yang lalu saya adalah salah satu dari sekian banyak orang yang turut membela saudara BTP dari tudingan penista agama. Tentu, saat itu adalah masa-masa yang berat bagi saudara BTP. Meskipun begitu pembelaan terhadap dirinya tidak surut, dan saya masuk dalam gelombang yang turut membela secara tegas saudara BTP dari belunggu fitnah tersebut.

Namun setelah video sepuluh menit itu, membuat saya perlu bertafakur atas keberpihakan saya kepada saudara BTP. Melalui media berita, saya membaca kabar bahwa saudara BTP telah bersilaturahim dengan Menteri ET. Tentu ini adalah sebuah langkah baik dalam membangun sistem dalam BUMN. Sikap ujub yang kerap tercermin dalam saudara BTP, sebatas bisa kita do’akan bahwa kelak dirinya akan memiliki akhlak lebih baik. Karena sehebat apapun kinerja seorang BTP, maka tetaplah jauh dari sempurna, karena kesempurnaan hanya milik Tuhan yang maha kuasa. Atas dasar itu, upaya-upaya perubahan perlu selalu ditanamkan tekad saling membangun satu sama lain. Bukan justru sebaliknya, menghancurkan satu sama lain.

Sebagai penutup sekaligus penanda bahwa penguatan ‘akhlak’ dalam BUMN adalah satu keniscayaan. Bayangkan jika jajaran Komisaris Utama seperti saudara BTP saja rasanya masih jauh dari kaidah akhlak. Konon para pegawai atau manajer-manajer yang juga menduduki peran penting didalam jajaran BUMN. Tentu kedepan ini bukan saja menjadi pekerjaan rumah BUMN saja, namun juga tanggungjawab bersama kita. Maka dengan begitu tauladan kepemimpinan BUMN yang mencermin kepribadian akhlakul karim menjadi salah satu orientasi pengembangan sistem nilai organisasi BUMN.

Kita berharap penguatan akhlak dalam BUMN bukan saja di awal permukaan, namun dalam keseharian aktivitas, dalam cerminan kepemimpinan dan hubungan-hubungan bersama masyarakat. Di masa krisis pandemi seperti ini, mengutamakan akhlak lebih utama dari pada merasa paling benar sendiri. Karena ini adalah saatnya kita kembali bermuhasabah pada Allah Ta’ala, karena ujian kepada umat manusia pada saatnya berubah menjadi nikmat dalam ibadah. Wallahul muwaffiq ila aqwamit-thariq, Wasslamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Leave A Comment